Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Post Icon

THE POWER OF HABIT (PART III)


Ketika pertama kali saya berbicara di depan umum, saya merasa kikuk yang luar biasa. Semua perkataan yang sudah dipersiapkan dengan matang, tiba-tiba menghilang dari pikiran saya. Konsentrasi pun buyar. Saya bingung, harus bicara apa? Saat  dipaksakan untuk bicara, susunan kata dan arahnya tidak jelas. Mungkin orang yang mendengarkannya pun tidak akan memahami apa yang saya maksudkan. Istilahnya, saya mengalami “demam panggung”.

Dan, terus terang saya kagum dengan salah seorang teman yang begitu lancarnya  bicara. Kata-katanya seolah-olah mengalir begitu saja tanpa dibuatkan konsep terlebih dahulu. Sikapnya tenang tanpa beban. Orang yang mendengarkannya pun memahaminya dengan mudah. Interaksi dan komunikasi berjalan dengan lancar. Luar bisa! Saya kagum dan terus terang merasa iri.

Lalu saya membuat perbandingan. Apa yang membedakan saya dengan dia? Setelah dipikirkan dan dipertimbangkan dengan matang, saya menarik sebuah kesimpulan. Saya baru pertama kali berbicara di depan umum, sedangkan dia sudah terbiasa. Sekali lagi, dia sudah terbiasa. Itu kuncinya. Jadi, kebiasaanlah yang membuat orang menjadi hebat.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

THE POWER OF HABIT (PART II)


Sudah merupakan kebiasaan saya pada masa sekolah dulu, apabila sedang libur saya melakukan perjalanan keliling desa, masuk ke pelosok-pelosok kampung.  Dalam setiap perjalanan itu saya merasa ada sesuatu yang menyelinap ke dalam sanubari. Ternyata di luar rumah, banyak sekali pelajaran hidup yang bisa diperoleh. Tidak hanya di bangku sekolah, dalam setiap perjalanan pun pelajaran-pelajaran itu bermunculan di depan mata.

Pada suatu hari saya memasuki sebuah perkampungan. Di kampung tersebut penduduknya secara umum hidup bertani. Tetapi,  di samping itu juga sebagian dari mereka ada yang berusaha dengan membuat batu-bata. Kehidupan mereka sungguh sederhana dan tenang. Saya merasakan denyut kehidupan di kampung tersebut begitu damai meskipun mungkin masih jauh dari kecukupan.

Yang menarik perhatian saya, ketika saya berjalan membuntuti seorang pria setengah baya. Di sebuah tikungan ia berbelok. Kemudian menuruni tanah galian yang cukup dalam dan lebar. Pada saat sedang menuruni anak-anak tangga tanah itulah saya baru mengetahui bahwa matanya terpejam. Ternyata ia seorang tuna tetra. Dalam hati saya bertanya-tanya, kok, bisa orang buta berjalan seperti orang normal, tanpa tongkat dan tidak tersandung sedikit  pun. Sementara orang normal saja ada kalanya tersandung dan terjatuh.

Setelah berada di dasar galian, pria tuna netra tersebut kemudian mulai mencangkul-cangkul tanah. Menguleninya sampai likat. Kemudian memikulnya dan membawanya ke atas.

Luar biasa! Saya benar-benar kagum. Ternyata kebiasaan yang ia kerjakan setiap hari membuatnya mampu menegenali segala perubahan yang dialaminya. Coba bayangkan tanah galian itu! Awalnya tidak ada. Ia menggalinya secara bertahap, sehingga sekarang menjadi lubang besar, yang mungkin bisa saja membuatnya tenggelam bila sudah tergenang air. Tetapi ia bisa mengenalinya dan menghindarinya.

Betapa hebatnya suatu kebiasaan. Kebiasaan yang baik dapat membuat kita selamat. Sedangkan kebiasaan yang buruk dapat membuat kita mengalami penderitaan dan penyesalan yang tiada akhir.

Semoga bermanfaat.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

THE POWER OF HABIT (PART I)


Betapa hebatnya kekuatan dari sebuah kebiasaan. Dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baik, maka suatu saat kita akan mendapatkan hasil yang tak terduga. Sebaliknya, kebiasaan-kebiasaan yang buruk, akan membuat kita merugi dan  menderita.

Sebuah cerita menarik dari Turki menginspirasi saya untuk memposting tulisan ini. 



Diceritakan,  di sebuah desa tingallah  keluarga miskin  dengan  dua anak, laki-laki dan perempuan.  Umur anak-anak tersebut kira-kira antara 10 tahun dan 7 tahunan.  Ayahnya pekerja serabutan, dan sekarang terbaring sakit akibat kecelakaan jatuh dari sepeda, sehabis bekerja memotong rumput di kota.

Si anak laki-laki ini memiliki keinginan yang sederhana, yaitu ingin memiliki sepasang sepatu. Karena, tanpa sengaja ia  menjatuhkan sepatu adiknya ke selokan pada saat pulang sekolah.  Arus air  selokan di tempat itu cukup deras. Begitu cepatnya sepatu si adik terseret arus air dan tersangkut di dalam got. Sepatunya pun tidak bisa ditemukan.

Setelah kejadian tersebut, sebagai konsekwensinya mereka harus  bergantian memakai sepatu yang sama (milik sang kakak) pada saat berangkat ke sekolah. Setiap pulang sekolah, si kakak lari secepatnya menuju ke  sudut belakang gedung rumah penduduk. Di  sana adiknya sudah menunggu untuk bergiliran memakai sepatu tersebut. Kejadian itu terus berlanjut setiap hari. Mereka merahasiakan kejadian ini kepada orang tuanya, karena takut dimarahi. Dan tidak mungkin dibelikan sepatu baru, karena orang tuanya juga tidak memiliki uang.

Pada suatu hari ada pengumuman perlombaan lari marathon antar sekolah dasar. Hadiahnya sangat menarik. Juara pertama dan kedua mendapatkan piala. Dan yang ketiga mendapatkan sepatu olah raga yang sangat bagus.

Si anak ini ingin mengikuti perlombaan tersebut karena ingin mendapatkan sepatu, tetapi gurunya menolaknya dengan alasan tertentu dan mungkin menyepelekannya. Si anak ini terus memaksa sehingga akhirnya bisa mengikuti perlombaan tersebut.



Ketika hari H-nya perlombaan dilaksanakan, ia berhasil melewati lawan-lawannya dan meninggalkan mereka jauh di belakang. Tetapi keinginannya hanyalah mendapatkan sepatu. Jadi, ia harus berada di urutan posisi ketiga. Maka,  ia pun berhenti dulu menunggu yang lainnya. Sayang, yang kemudian datang bersaing kecepatan ada tiga orang, sehingga  ia harus bersaing dengan ketiga anak tersebut. Ketika sudah mendekati  garis finish, ia  tidak bisa lagi mengontrol  posisinya. Maka, ia pun lari secepatnya dan berhasil mengalahkan yang lain. Akhrinya,  ia pun menjadi juara pertama.

Pihak sekolahnya sangat senang dengan hasil ini, terutama guru olah raganya. Kecuali si anak yang menang tadi, karena yang diinginkannya adalah sepatu, bukan piala.

Cerita ini sungguh menginspirasi. Betapa kebiasaan-kebiasaan itu memberikan dampak yang sangat besar bagi kehidupan kita. Dalam bidang apa pun, rutinitas yang dijalankan dengan sepenuh hati akan memberikan hasil yang memuaskan. Cobalah lihat sebuah lukisan  yang indah. Si pelukis pastinya tidak begitu saja bisa menghasilkan lukisan sebagus itu. Karya cipta hebat tersebut muncul secara bertahap karena ia melakukan kebiasaan melukis yang terus-menerus. Mungkin dari awalnya yang tidak bagus, akhirnya menjadi sangat bagus.

Mudah-mudahan ini bisa menginspirasi kita semua.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

KH ZAINAL MUSTAFA SANG ULAMA PEJUANG


KH Zainal Mustafa
    A
lim, kanaah, santun, dan lemah lembut. Begitulah sifat keseharian ulama terkemuka asal Tasikmalaya, Jawa Barat, KH Zainal Mustafa. Namun, pendiri Pondok     Pesantren Sukamanah itu selalu bersikap tegas dan keras terhadap segala bentuk kemungkaran dan kesewenang-wenangan.

Dengan penuh keberanian, Kiai Zainal menentang segala bentuk penjajahan yang dilakukan Belanda dan Jepang. Secara tegas, ia mengabaikan dan menolak perintah penjajah Jepang untuk hormat kepada Tenno Jepang dan matahari terbit. Ulama pejuang itu dengan gagah berani mengobarkan perlawanan terhadap penjajah Jepang.

Beliau dilahirkan di Kampung Bageur, Cimerah, Singaparna, Tasikmalaya, pada tahun 1907. Ada pula yang mengatakan lahir pada tahun 1899. Salah seroang isterinya yang bernama Nyai Encin Kuraisin, mengungkapkan suaminya lahir pada tahun 1901.

Pada masa kecilnya KH Zainal Mustafa disapa dengan nama Umri alias Hudaemi. Jiwa kepemimpinannya telah muncul pada diri sang kyai sejak masih kecil. Dengan penuh ketekunan, ia menimba ilmu dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Selama 17 tahun beliau menimba ilmu dari berbagai pesantren, seperti Pesantren Gunung Pari, Pesantren Cilenga, Pesantren Sukaraja, Pesantren Sukamiskin, dan Pesantren Jamanis. Bahkan, ia juga sempat menimba ilmu dan Tanah Suci Makkah.

Berbagai ilmu agama dikuasainya sejak masih berusia 10 tahun. Ia terbilang santri yang istimewa, karena  mampu menghafal dan memahami ayat-ayat Alquran beserta  tata bahasanya dengan baik. Pada tahun 1927 Hudaemi berangkat ke Tanah Suci. Di sana ia menimba ilmu dan bertemu dengan ulama-ulama terkemuka.

 Sepulang dari Baitullah, namanya berganti menjadi Zainal Mustafa. Pada 1927  setelah berkonsultasi dengan guru-gurunya, Kiai Zainal memutuskan untuk mendirikan pesantren di Desa Cikembang. Pesantren yang didirikannya hingga kini dekenal dengan nama Pesantren Sukamanah.

Ia berkhidmat untuk menyebarkan  dan mesyiarkan  agama Islam lewat pesantren yang diasuhnya. Dalam waktu yang singkat, nama besar pesantrennya mulai menyebar ke berbagai tempat. Boleh dibilang, Pesantren Sukamanah sudah maju pesat di usianya yang masih muda.

Selain mengarkan ilmu, Kiai Zainal tak pernah berhenti belajar. Ia tetap menimba ilmu kepada kiai di pesantren lain yang lebih berilmu. Selama hidupnya, sang ulama pejuang itu telah menerjemahkan 20 kitab ke dalam bahasa Sunda.

Kiprah di NU

Kiai Zainal Mustafa juga tercatat aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama. Pada 1933 ia diberi amanah sebagai wakil rais Syuriah NU cabang Tasikmalaya. Saat itu Kiai Ruchiyat sebagai raisnya. Sayangnya, tak terlalu banyak catatan tentang kiprahnya sebagai penguruh ormas Islam terbesar di Indonesia, bahkan dunia itu.

Kiai Zainal banyak berjasa dalam menarik kalangan pengusaha di Tasikmalaya untuk terlibat di NU. Nama kiai pun semakin  dikenal dan pengaruhnya semakin besar di Tasikmalaya.

Kiai Zainal adalah ulama yang revolusioner. Pesantrennya menjadi  “kawah candradimuka” bagi para kiai muda progresif di Jawa Barat alumni Pesanren Sukamanah pun dikenal dengan sebutan “Kader Islam” yang bertugas membangkitkan semangat pemuda untuk melawan penjajah.

Sejak 1940, ulama terkemuka itu secara berani dan terang-terangan terus membangkitkan semangat kebangsaan dan memantik sikap prelawanan terhadap penjajah. Lewat khutbah dan ceramahnya, Kiai Zainal tak pernah bosan menyerang kebijakan politik kolonial Belanda.

Bukan tanpa resiko Kiai Zainal bersikap berani menentang penjajahan. Peringatan demi peringatan dari penjajah kerap diterimanya. Namun, ia tak pernah mengenal kata takut dalam menegakkan kebenaran. Bahkan, ia juga kerap diturunkan secara paksa dari mimbar leh mereka yang pro-Belanda.

Pada 17 November 1941, Kiai Zainal  bersama Kiai Ruchiyat (dari Pesantren Cipasung), Haji Syirod, dan Hambali Syafei ditangkap Belanda. Para ulama itu dijebloskan ke dalam penjara dengan tuduhan telah menghasut rakyat untuk memberontak terhadap pemerintahan Hindia Belanda.

Kiai Zainal ditahan di Penjara Tasikmalaya dan  sehari kemudian dipindahkan ke penjara Sukamiskin Bandung, dan baru bebas 10 Januari 1942. Jeruji besi penjara tak menyurutkan semangat juangnya membela agama dan Tanah Air. Ia terus menggelorakan semangat perlawanan terhadap kezaliman dan penindasan.

Setelah bebas dari Penjara Sukamiskin Bandung,  Kiai Zainal kembali ditangkap Belanda. Pada 8 Maret 1942 kekuasaan Hindia Belanda berakhir dan Indonesia diduduki  Pemerintah Militer Jepang. Kedua ulama terkemuka di Tasikmalaya itu dibebaskan dari penjara.

Iming-iming jabatan diberikan pemerintah Jepang kepada Kiai Zainal. Namun, tawaran itu langsung ditolaknya. Di hadapan jamaahnya, saat acara penyambutan kembali di pesantren, Kiai Zainal memperingatkan agar  pengikut dan santrinya tetap percaya pada diri sendiri dan tidak mudah termakan oleh pada propaganda asing.

Memimpin Pemberontakan Sukamanah
Bagi masyarakat Sukamanah, Tasikmalaya, Jawa Barat, tanggal 25 Februari merupakan hari bersejarah. Pada hari itu –tepat pada 25 Februari  1944- KH Zainal Mustafa memimpin pemberontakan dan perlawanan terhadap penjajah Jepang.

Perlawanan terhadap Jepang dilakukannya secara terang-terangan pada saat  semua alim ulama Singaparna dikumpulkan penjajah Jepang di alun-alun. Di bawah todongan senjata, semua ulama diharuskan menghormat pada matahari. Kiai Zainal menolak perintah itu. Baginya, hal itu merupakan perbuatan musyrik.

Dengan penuh keberanian, ia menegakkan tauhid dan keyakinannya  terhadap kebenran ajaran Islam. “Lebih baik mati daripada mengiuti perintah Jepang,” itulah prinsip yang selalu ditanamkan Kiai Zainal kepada murid-muridnya. Tak hanya itu, ia juga menentang kebijakan Jepang yang menjalankan Romusa di Indonesia.

Perlawanan terhadap penjajah Jepang dimulai dengan penyusunan  kekuatan di bawah komando Kiai Zainal. Ia dibantu keluarga dan murid-murid kepercayaannya. Pesantren  Sukamanah menjadi basis pertahanan utama dalam melawan penjajah Jepang.

Strategi menyerang dan bertahan bergaya militer plun disusun sang kiai guna mempertahankan  Tanah Air dari penjajahan. Tak hanya itu, Kiai Zainal pun menyusun rencana jangka pendek dan panjang dalam melakukan perlawanan.  Strategi jangka pendek ditekankan pada persiapan situasi sosial dan mengatur strategi perang.

Persiapan para santri Sukamanah untuk memberontak akhirnya diketahui oleh Jepang. Pada 24 Februari 1944, Jepang mengirim pasukan Keibodan serta Camat Singaparna untuk menangkap Kiai Zainal. Pasuan “berani mati” yang terdiri atas santri dan warga menangkap tentara Jepang itu.

Keesokan harinya, mereka dilepas setelah persenjataannya dipereteli. Pukul 13.00 –tepat  pada 25 Februari 1944 – empat opsir Jepang datang dan menyuruh Kiai Zainal menghadap penguasa Nippon di Tasikmalaya. Perintah tersebut ditolak tegas sehingga terjadilah keributan.

Tiga opsir utusan Jepang itu tewas dan seorang lagi dibiarkan hidup membawa ultimatum dari santri “sukamansah. Dalam ultimatumnya, Kiai Zainal mendesak Jepang untuk memerdekakan Pulau Jawa terhitung mulai 25 Februari 1944.

Beberapa jam kemudian sejumlah truk berisi pasukan mendekati garis depan pertahanan Sukamanah. Kalimah takbir membahana. Namun, pasukan Sukamanah kaget bukan kepalang. Musuh yang datang justru datang berasal dari bangsa sendiri.

Dengan taktik adu domba dan kekuatan persenjataan yang lebih besar, Jepang menguasai Sukamanah. Puluhan  santri gugur di medan jihad. Kiai Zainal pun ditangkap dan ditawan Jepang. Sejak saat itu, kabar ulama pemberani iut tak lagi terdengar.

Baru pada 23 Maret 1970, ditemukan data pada Kantor Evereled Belanda bahwa Kiai Zainal dan pengikutnya telah dihukum  mati  di kawasan Ancol pada 25 Oktober 1944. Jasa dan pengabdiannya untuk agama dan bangsa hingga kini tetap dikenang. Pemerintah RI  telah  menganugerahkan gelar Pahlawan Pergerakan Nasional pada 1972.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS